PENGARUH UTANG PEMERINTAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. LATAR BELAKANG

Kampanye Capres-cawapres memanas. Salah satu kubu menyinggung tingginya hutang pemerintah dan juga peruntukkannya. Benar atau tidak kenyataan tersebut, perlu kita buktikan. Menurut Hekinus Manao trend utang luar negeri dalam LKPP beberapa tahun terakhir menunjukkan pengurangan. Lalu dari data mana yang dipakai Capres yang bersangkutan? Yang perlu kita ketahui saat ini adalah bagaimana kajian ilmiah dan empirik tentang seberapa besar lavarage utang luar negeri terhadap salah satu tujuan pembangunan ekonomi yaitu: pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi (economic growth) mengukur prestasi dari perkembangan sesuatu perekonomian. Dalam analisis makroekonomi tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai suatu negara diukur dari perkembangan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil yang dicapai suatu negara (Sadono Sukirno, 1999). Guna mencapai tingkat perekonomian tertentu dalam sistem perekonomian terbuka, peranan pemerintah amat diperlukan.

Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagai instrumen fiskal pemerintah senantiasa diarahkan untuk menjaga dan mempertahankan stabilitas ekonomi makro serta sekaligus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi di Indonesia ditopang dari sumber-sumber dana dari dalam negeri dan luar negeri. Sumber pembiayaan dalam negeri berasal dari tabungan pemerintah, tabungan masyarakat serta utang domestik. Sedangkan pembiayaan dari luar negeri berasal dari penanaman modal asing dan utang yang diperoleh dari lembaga-lembaga internasional dan negara-negara sahabat baik dalam rangka bilateral maupun multilateral.

Indonesia selama ini menempatkan utang sebagai salah satu tiang penyangga pembangunan. Kebijakan anggaran belanja berimbang pemerintah Indonesia menempatkan utang luar negeri sebagai komponen penutup kekurangan. Saat Indonesia mendapat rejeki berlimpah dari oil boom, utang luar negeri tetap saja menjadi komponen utama pemasukan di dalam angaran belanja pemerintah. Bahkan saat Indonesia telah mulai menganut sistem anggaran defisit/surplus sejak tahun 2005, komponen pembiayaan utang luar negeri cukup besar. Padahal di dalam kebijakan ekonominya pemerintah selalu mengatakan bahwa utang luar negeri hanya menjadi pelengkap belaka (Makmun, 2005). Lampiran Keputusan Menteri Keuangan Nomor 447/KMK.06/2005 tentang Strategi Pengelolaan Utang Negara tahun 2005-2009 menyebutkan sampai saat ini, utang masih merupakan sumber utama pembiayaan APBN untuk menutup defisit maupun untuk pembayaran kembali pokok utang yang telah jatuh tempo (refinancing).

Makmun (2005) berpendapat adanya utang luar negeri juga membuat pemerintah tidak serius mengumpulkan pendapatan dari dalam negeri. Beberapa kekurangan yang terjadi di dalam penyusunan RAPBN dianggap oleh pemerintah dapat ditutup dari perolehan pinjaman luar negeri.

B. RUMUSAN MASALAH

Pertanyaannya sekarang, bagaimana pengaruh utang luar negeri dewasa ini terhadap pertumbuhan ekonomi? Apakah situasi ekonomi sekarang telah berubah sehingga secara empiris dapat dibuktikan kebenaran teori ICOR? Lalu bagaimana dengan instrument utang baru saat ini? Surat Berharga Negara misalnya? Jawabannya tidak semudah kita berteriak dalam kampanye menkritik pemerintah terkait utang pemerintah, tapi

BAB II

PEMBAHASAN

PENGARUH UTANG PEMERINTAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI

 

A. KONSEP PERTUMBUHAN EKONOMI

Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output perkapita. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang (Sukirno, Sadono, 2004).

M. Todaro (1998) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat menjadi pekerjaan utama dan tumpuan perhatian utama para pakar ekonomi, perencana, para pembuat keputusan dan politikus di negara-negara berkembang selama tiga dasawarsa ini. Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi dianggap sebagai prasyarat utama dalam mencapai taraf kehidupan yang lebih tinggi bagi seluruh anggota masyarakat di negara yang bersangkutan. Itu pula sebabnya pertumbuhan ekonomi menjadi inti usaha pembangunan. Akan tetapi, saat ini berkembang pula pandangan bahwa aspek lain tak kalah penting dalam pembangunan seperti pemerataan pendapatan dan hasil-hasil pembangunan, pengentasan kemiskinan, serta penanggulangan masalah pengangguran.

B. KONSEP INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO (ICOR)

Sadono Sakirno (1999) menyebutkan Teori Harrod-Domar menerangkan syarat yang harus dipenuhi supaya suatu perekonomian dapat mencapai pertumbuhan yang teguh atau steady growth dalam jangka panjang. Syarat untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang teguh akan mencapai kapasitas penuh dalam jangka panjang. Pertumbuhan itu sendiri bisa direalisasikan dengan mengikuti rumus matematis Harrod Domar melalui pemupukan tabungan nasional (kapitalisasi) yang terus menerus. Rumus Harrod-Domar ini oleh ahli ekonomi pembangunan di pelbagai belahan dunia manapun termasuk Indonesia dijadikan patokan untuk menetapkan tingkat efisiensi pembangunan lewat formula besaran ICOR (Incremental Capital Output Ratio).

ICOR (Incremental Capital Output Ratio) adalah suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan/menambah satu unit output. Besaran ICOR diperoleh dengan membandingkan besarnya tambahan kapital dengan tambahan output. karena unit kapital bentuknya berbeda-beda dan beraneka ragam sementara unit output relatif tidak berbeda, maka untuk memudahkan penghitungan keduanya dinilai dalam bentuk uang (nominal). Pengkajian mengenai ICOR menjadi sangat menarik karena ICOR dapat merefleksikan besarnya produktifitas kapital yang pada akhirnya menyangkut besarnya pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai. Kebutuhan dana investasi yang diperlukan untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dengan pendekatan ICOR (Incremental Capital Ouput Ratio).

k = s/g atau g = s/k

g  =  target pertumbuhan ekonomi

s  =  saving ratio

k  =  ICOR

Bila ICOR suatu negara sebesar 4 dan laju pertumbuhan ekonomi pada tingkat 6,5% maka diperlukan saving ratio (s) sebesar 26% untuk dapat memertahankan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5%. Apabila sumber dalam negeri yang dapat dihimpun sebesar 20% maka diperlukan sumber dana luar negeri sebesar 6%.

C. KEYNES APPROACH:  DUAL ANALYSIS GAP

Kebutuhan sumber dana luar negeri  yang disebabkan karena kebutuhan dana investasi tidak dapat dipenuhi seluruhnya oleh sumber dana dalam negeri dapat diuraikan dengan menggunakan Dual Analysis Gap. Secara teoritis, utang luar negeri dapat didekati dengan melalui pendekatan nasional Keynes untuk perekonomian terbuka. Untuk menjelaskan secara ringkas Dual Analysis Gap tersebut dapat ditunjukkan melalui persamaan pendapatan nasional.

Akibat dari adanya kesenjangan antara tabungan nasional yang berhasil dihimpun dengan besarnya kebutuhan dana yang diperlukan untuk membiayai investasi domestik baik yang dilakukan oleh pihak swasta maupun pemerintah, maka sumber-sumber pembiayaan asing dan dalam negeri dicari untuk menutupi kesenjangan tersebut.

Pembiayaan dapat dilakukan dengan meningkatkan tabungan nasional dalam negeri melalui kebijakan menekan pengeluaran (expenditure dampening policy). Dalam dekade terakhir ini, pembiayaan dari dalam negeri juga dilakukan dengan melakukan penerbitan Surat Berharga Negara. Jika pembiayaan dari dalam negeri tersebut belum cukup, maka diperlukan alternatif lain yaitu melalui tabungan luar negeri (foreign saving), yang meliputi pinjaman luar negeri dan penanaman modal asing.

D. PENELITIAN TERDAHULU TENTANG UTANG LUAR NEGERI

M. Todaro (1998) berpendapat bahwa akumulasi utang luar negeri (external debt) merupakan suatu gejala umum yang wajar. Rendahnya tabungan dalam negeri tidak memungkinkan dilakukannya investasi secara memadai, sehingga pemerintah negara-negara berkembang harus menarik dana pinjaman dan investasi dari luar negeri. Bantuan luar negeri dapat memainkan peranan yang sangat penting dalam usaha negara yang bersangkutan guna mengurangi kendala utamanya yang berupa kekurangan devisa, serta untuk mempertinggi tingkat pertumbuhan ekonominya.

Dampak utang luar negeri (LN) pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi banyak dipertanyakan orang. Beberapa pengalaman dan bukti empiris juga telah menunjukkan bahwa sejumlah negara yang memanfaatkan pinjaman luar negeri untuk  melaksanakan pembangunannya dapat berhasil dengan baik, dalam arti negara tersebut dapat meningkatkan taraf perekonomiannya dan sekaligus dapat membayar kembali utang luar negerinya. Tidak sedikit pula negara yang mempunyai pengalaman sebaliknya, yaitu kondisi perekonomian yang mengalami kemerosotan, sehingga memerlukan bantuan dari donor untuk menghapus sebagian utang-utangnya. Dalam berbagai model analisis regresi, jarang ditemukan dampak positif utang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi. Bahkan dengan model tertentu, terlihat bahwa utang luar negeri justru berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Penelitian Umar Juoro (1994) menunjukkan faktor investasi dan keterbukaan ekonomi dalam berbagai model selalu berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Sedangkan pinjaman luar negeri menunjukkan hubungan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, sekalipun hasil dari penggunaan model tertentu ada juga yang membuktikan dampak positif utang luar negeri.

Tidak hanya di Indonesia, perdebatan mengenai dampak utang luar negeri pada pertumbuhan ekonomi di berbagai negara pun sudah lama diperdebatkan. Berbagai studi empiris menunjukkan hubungan utang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi berkorelasi negatif, meski sejumlah penelitian juga menolak kesimpulan itu. Namun demikian, karena utang luar negeri juga merupakan bagian dari investasi, seharusnya berdampak positif pada pertumbuhan.

Secara teoretis pada tahun 1950 dan 1960-an, dalam semangat duet ekonomi Harrod-Domar, utang luar negeri dipandang mempunyai dampak positif pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan tabungan masyarakat sebagai dampak lanjutannya. Alasannya, aliran utang luar negeri dapat meningkatkan investasi yang selanjutnya meningkatkan pendapatan dan tabungan domestik dan seterusnya. Secara teori, utang luar negeri justru menghasilkan dampak pengganda (multiplier effects) yang positif pada perekonomian.

Pada tahun 1970-an, dua ekonomi lain yaitu: Keith Griffin dan John Enos dalam bukunya “Foreign Assistance: Objectives and Consequences” membuktikan utang luar negeri berdampak negatif pada pertumbuhan. Mereka mengajukan bukti empiris bahwa utang luar negeri berkorelasi negatif pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan tabungan masyarakat. Utang luar negeri telah membuat pemerintah meningkatkan pengeluaran yang mengurangi dorongan untuk meningkatkan penerimaan pajak dan sebagainya.

Hasil yang serupa juga dikemukakan oleh Rahman (1979), Weiskoft (1972) Chenery dan Strout (1979), Hujman (1968) dan Mudrajat Kuncoro (1982) yang menunjukkan bahwa modal asing berpengaruh negatif terhadap tabungan domestik di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia. Di samping itu, arus modal asing juga dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, walaupun secara statistik tidak signifikan. Studi-studi tersebut juga menemukan bahwa tabungan domestik lebih penting peranannya daripada modal asing, baik secara kuantitatif maupun statistik dalam menentukan pertumbuhan ekonomi.

Padat tahun 1980-an, muncul para ekonom yang mengatakan bahwa utang luar negeri tidak terlihat berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi karena negara yang menjadi obyek penelitian adalah negara dengan pendapatan per kapita sangat rendah. Ada juga ada ekonom lain yang mengatakan sudah barang tentu utang luar negeri berdampak negatif, karena ada faktor nonekonomi yang umumnya luput dari penelitian para ekonom tapi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yakni adanya peperangan, gangguan politik, perubahan terms of trade hasil pertanian secara tiba-tiba disertai bencana alam.

Dari hasil penelitian Arif dan Sasono (1984) dalam periode 1970-1977 diperoleh bukti bahwa hutang luar negeri bersama dengan investasi asing langsung berpengaruh negatif dan hutang luar negeri ternyata juga terus menerus mengalami penurunan kemampuan dalam membiayai impor barang dan jasa. Studi yang dilakukan Arief dan Sasono (1987) berkaitan dengan hutang luar negeri dengan investasi asing menemukan bahwa koefisien regresi yang negatif meskipun secara statistik tidak signifikan. Sedangkan penelitian Kuncoro (1988) menyimpulkan bahwa bantuan luar negeri membawa dampak langsung dan dampak total yang negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan dampak positif terhadap tabungan dalam negeri.

Penelitian pada tahun 1988 oleh Rana dan Dowling di negara-negara Asia, dengan menggunakan data time series dan cross section, menunjukkan memang tidak ada kaitan yang berarti antara utang luar negeri dengan pertumbuhan ekonomi. Penelitian tahun 1992 oleh ekonom Snyder juga menunjukkan sangat kecil dampak utang luar negeri pada pertumbuhan.


BAB III

KESIMPULAN

 

Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output perkapita. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang (Sukirno, Sadono, 2004).

ICOR (Incremental Capital Output Ratio) adalah suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan/menambah satu unit output. Besaran ICOR diperoleh dengan membandingkan besarnya tambahan kapital dengan tambahan output. karena unit kapital bentuknya berbeda-beda dan beraneka ragam sementara unit output relatif tidak berbeda, maka untuk memudahkan penghitungan keduanya dinilai dalam bentuk uang (nominal).

Dampak utang luar negeri (LN) pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi banyak dipertanyakan orang. Beberapa pengalaman dan bukti empiris juga telah menunjukkan bahwa sejumlah negara yang memanfaatkan pinjaman luar negeri untuk  melaksanakan pembangunannya dapat berhasil dengan baik, dalam arti negara tersebut dapat meningkatkan taraf perekonomiannya dan sekaligus dapat membayar kembali utang luar negerinya


BAB IV

 

A. PENUTUP

Dampak utang luar negeri (LN) pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi banyak dipertanyakan orang. Beberapa pengalaman dan bukti empiris juga telah menunjukkan bahwa sejumlah negara yang memanfaatkan pinjaman luar negeri untuk  melaksanakan pembangunannya dapat berhasil dengan baik. Dalam berbagai model analisis regresi, jarang ditemukan dampak positif utang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi. Bahkan dengan model tertentu, terlihat bahwa utang luar negeri justru berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.

B. SARAN

Dapat dikatakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkakan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia adalah karena ekonomi nasional terlalu tergantung terhadap pinjaman luar negeri. Dengan adanya faktor yang menyebabkan terjadinya krisis tersebut, maka Indonesia seharusnya tidak terlalu bergantung terhadap pinjaman luar negeri

.

DAFTAR PUSTAKA

 Adwin Surya Atmadja. 2001. Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia: Perkembangan Dan Dampaknya. Jakarta: Pusat Penelitian Universitas Kristen Petra.

  • Antoni., SE., ME. 1427 H. Dampak Hutang Luar Negeri Dan Variabel Makro Ekonomi Lainnya Terhadap Perekonomian Indonesia. Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas Bung Hatta.
  • Kameo, Daniel D, PhD. 2004. Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Kesejahteraan. Suara Merdeka Online, Selasa, 27 Juli 2004.
  • Makmun, 2005. Pengelolaan Utang Negara dan Pemulihan Ekonomi. Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan, Edisi Khusus November 2005. Jakarta: BAPPEKI.
  • Priyatno, Duwi. 2008. Mandiri Belajar SPSS untuk Analisis Data dan Uji Statistik. Yogyakarta.
  • Suhud, Muhammad. 2004. Utang Indonesia Pasca Program IMF. INFID Annual Lobby. Jakarta: INFID.

Sukirno, Sadono. 1999. Pengantar Teori Makro ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Cara menginstall Windows 8

Windows 8 logo

Cara instal windows 8 sangatlah mudah, mirip dengan cara instal windows 7, namun ada beberapa perbedaan terutama saat Anda selesai menginstall Windows. Anda akan dibawa untuk membuat profile account online atau yang lebih di kenal dengan sebutan Microsoft account, itu jika komputer Anda terhubung ke jaringan internet, jika tidak Anda bisa juga membuat Local account seperti yang biasa Anda lakukan pada versi-versi Windows sebelumnya.

Sebelum Anda mulai mempelajari cara instal windows 8, Anda harus memperhatikan dulu spesifikasi atau ketentuan hardware komputer yang Anda miliki, apakah sudah memenuhi syarat untuk menjalankan Windows 8 atau belum ?. Berikut spesifikasi minimal yang harus komputer Anda penuhi :

Windows 8 x86 (versi 32-bit)

  • 1GHz Processor
  • 1GB RAM
  • 16GB Space Hard Disk
  • DirectX 9 graphics device dengan WDDM 1.0 atau diatasnya

Windows 8 x86_64 (versi 64-bit)

  • 1GHz Processor
  • 2GB RAM
  • 20GB Space Hard Disk
  • DirectX 9 graphics device with WDDM 1.0 atau diatasnya

Saya rasa spesifikasi komputer diatas tidak berat-berat amat, karena komputer yang diproduksi diatas tahun 2000 sudah bisa memenuhi standar minimun diatas. Tentu saja semakin tinggi spesifikasi komputer yang Anda miliki dibanding spek minimun diatas maka akan semakin lancar jaya lah Windows 8 Anda nantinya.

1. Siapkan DVD installer windows 8

2.  jalankan komputer dan setting bios agar booting lewat CD/DVD atau setting menjadi USB/Flashdisk jika menggunakan USB/Flashdisk…Booting Install lewat Flashdisk

3. masukan DVD installer windows 8

4. Tekan sembarang tombol saat muncul boot from cd or dvd

press any key

5. setalh itu akan terlihat seperti ini

1. CaraInstall1

 

6. Setelah file yang diperlukan akan disalin, setup dimulai dengan menanyakan apa bahasa, waktu, mata uang dan pengaturan input keyboard yang ingin Anda gunakan. Membuat pilihan yang Anda inginkan dan klik Next.

install_windows8-2

 

7. Tekan Tombol Install now untuk memulai installasi

install_windows8-3

 

8.  masukan kunci produk, dan klik bext (jika menemui sperti gambar di bawah ini)

install_windows8-4

 

9. jika tidak menemui, lanjut centang “I accept the license terms” lalu klik tombol Next

acep lisensi

 

10. Pilih “Custom: Install Windows only (advanced)

6. CaraInstall6

 

11.  Sekarang Anda akan diminta untuk memilih di mana Anda ingin menginstal Windows 8. Pilih partisi yang Anda inginkan dan klik Next. Jika Anda menginstal Windows 8 di mesin virtual, atau pada komputer baru Anda harus terlebih dahulu membuat partisi. Oleh karena itu klik Options Drive.

 install_windows8-7
 12. Kemudian, membuat partisi dengan menggunakan tombol New.
 install_windows8-8
13. Tentukan ukuran partisi dan klik Apply.
install_windows8-9

CATATAN: Windows 8 dipasang memiliki sekitar 10GB ruang tanpa tambahan khusus. Jika Anda ingin menginstal aplikasi lain, Anda harus membuat partisi yang lebih besar untuk itu. Buatlah minimal setidaknya 20 – 25 GB.

14. Anda akan diminta untuk mengkonfirmasi jika Anda OK dengan Windows 8 menciptakan sebuah partisi tambahan untuk file sistem, yang akan digunakan untuk boot dan pemulihan. Klik OK.
install_windows8-10
NB : Langkah dari nomer 11-14 itu untuk komputer yg baru di beli atau baru di rakit, belum pernah terpasang OS. jika sudah terpasang atau terinstall dulunya maka akan langsung d hadapkan dengan langkah nomer 15
 15. Pastikan partisi yang dipilih benar dan klik Next.
CATATAN: Pada langkah ini Anda juga dapat memformat partisi di mana Windows 8 akan diinstal, sebelum menekan Next.
install_windows8-11
 16. Instalasi akhirnya dimulai. Setup akan memakan waktu beberapa menit untuk menyalin semua file yang dibutuhkan dan menginstal sistem operasi.
proses2
17. jika install lewat Flashdisk/USB setelah langkah pada nomer 16 atau ketika proses intallasi berjalan, ketika mengalami restart, ketika itu langsung ubahlah kembali atau setting bios di komputer anda seperti semula atau defult optimaze (itu berguna untuk tidak mengalami pemutaran install yang mengulang seperti gambar langkah nomer 6).
18. tunggu dan biarkan saja
restart
19.
install_windows8-13
20.
.install_windows8-14
21. Pilih saja yang saya lingkari dengan warna kuning
install_windows8-15
lalu isikan nama user atau pengguna dan dan nama komputer sesuai dengan keinginan anda.
22.
install_windows8-23
23.
install_windows8-24
24. Finish
Fake_Windows_8_Start copy
Demikian selesai sudah, semoga bermanfaat…Good Luck always..

Membuat Flasdisk agar bisa di pakai untuk Menginstall Windows tanpa Software

Membuat flasdisk agar bisa booting atau sama saja membuat flasdisk menjadi seperti kaset CD/DVD dalam komputer untuk menginstall windows XP/Vista/7/8 tanpa software atau secara manual.

langusng saja untuk membuat Flasdiks agar bisa di pakai untuk menginstall windows di dalam komputer/notebook :

1. siapkan flasdisk berukuran lebih dari kapasitas file CD/DVD Windows.

2. Pastikan Anda memiliki File Iso atau CD/DVD isntaller Windows.

3. colokan Flasdisk anda ke komputer, ketik windows+r kemudian ketik cmd. kemudian pilih OK.

cmd

4. ketik DISKPART, terus enter

cmd diskpart

5. Ketik LIST DISK, maka akan muncul media penyimpanan di komputer anda, pastikan anda tahu betul yg mana flashdisk anda. Untuk mngetahuinya, cukup liat kapasitas size nya aja.

lIST DISK copy

6. Posisi flashdisk saya ada di disk 1, maka ketik SELECT DISK 1

7.Ketik CLEAN, enter.

8. Lalu ketik CREATE PARTITION PRIMARY, enter.

9. ketik SELECT PARTITION 1, enter

10. ketik ACTIVE, enter

11. ketik FORMAT FS=FAT32, enter

12. ketik ASSIGN, enter

13. EXIT, enter.

membuat boot fd

14. Selesai sudah. terakhir tinggal copykan semua isi file CD/DVD installer XP/Vista/7/8  ke dalam falsdisk tersebut.

Selamat flasdisk anda sudah bisa buat menginstall windows XP/Vista/7/8 sesuai yang anda inginkan.

Selamat mencoba dan semoga berhasil. semoga bermanafaat.

Sekian dan terimakasih.

All Converter Pro Versi 1.3 Full Version

allconverter_pro_icon_120All Converter adalah sebuah aplikasi program atau software yang berguna untuk mengconvert atau merubah file jenis video atau audio menjadi ke dalam berbagai jenis format 3GP, MP3, MP4, AVI, MPG, WMV, MPEG, FLV, HD, DVD, M2TS dan lain-lain!
Terpadu pemutar video!
Mengkonversi video ke iPod, iPad, iPhone, PS3, PSP, Blackberry, xBox, Zune, Apple TV, iRiver, dll
Mengatur bitrate audio video, frame rate

Bisa di terapkan dalam windows XP/Vista/7/8.

caranya :

1. Download filenya di http://www.allconverter.com/en/download/all-converter-pro/download (gratis)

2. Install file yang telah d download tadi ke dalam komputer anda.

3. sekarang kita kan membuat prgram ini menjadi full version atau permanen, yaitu pertama pastikan koneksi internet ada terputus (matikan koneksi internet) buka aplikasi yg sudah kita install tadi, kemudian pilih help, pilih dan klik Enter Activation Key,

 

aktipasiallconverter

lalu masukan tulisan di bawah ini :

Name : RaBBiT/SnD
Registration Email : rabbit@carrot.in
Key : 40344431681002435784

selesai, program telah menjadi full version.

NB : jika program tidak bisa di buka, buka melalui, explorer – Local Disk (C:) – Program Files – All Converter pro – All converter pro (application)

sperti pada gamabar :

allconverter

 

sekian dan terimakasih, semoga bermanfaat.

selamat mencoba…Gud lak..!!!

PISAU ANALISIS SOSIOLOGI PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT BERKEMBANG

BAB I

PENDAHULUAN

            Sosiologi Pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi di antara individu dan kelompok, kelompok dengan kelompok, atau dengan perkataan lain secara khusus sosiologi pendidikan itu membicarakan, melukiskan dan menerangkan institusi, kelompok, sosial, dan proses sosial, hubungan antara relasi sosial di mana di dalam dan dengannya manusia memperoleh dan mengorganisir pengalamannya. Jadi sosiologi pendidikan tidak hanya terbatas pada studi di sekolah saja, tetapi lebih luas lagi ialah mencakup institusi sosial dengan batasan sepanjang pengaruh daripada totalitas milieukurtural terhadap perkembangan kepribadian anak.

Untuk dapat menganalisis sosiologi pendidikan dalam masyarakat berkembang dapat dilihat melalui tiga kelompok teori.

Pertama, Teori Modernisasi yang terutama menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budayanya sebagai pokok persoalan dalam pembangunan.

Kedua,      Teori Ketergantungan yang merupakan reaksi teori modernisasi yang dianggap tidak mencukupi, bahkan menyesatkan.

Ketiga,      Teori Sistem Dunia yang pada dasarnya menolak teori ketergantungan yang dianggap terlalu menyederhanakan persoalan, padahal dalam kenyataannya gejala pembangunan di negara dunia ketiga jauh lebih kompleks.

Akibatnya teori ketergantungan gagal menjelaskan beberapa gejala pembangunan di Dunia Ketiga, terutama negara-negara yang berhasil memperkuat dirinya meski menggabungkan dirinya dalam kapitalisme global.

 

 

BAB II

PISAU ANALISIS SOSIOLOGI PENDIDIKAN MASYARAKAT BERKEMBANG

 

Pada awal abad ke-20, sosiologi mempunyai peranan penting dalam pemikiran pendidikan, sehingga lahirlah sosiologi pendidikan. Sebagaimana akhir abad ke-19, psikologi mempunyai pengaruh besar dalam dunia pendidikan, sehingga lahirlah suatu disiplin baru yang disebut psikologi pendidikan.

Sosiologi pendidikan dan psikologi pendidikan mempunyai peranan yang komplementer bagi pemikiran pendidikan. Apabila sosiologi pendidikan memandang gejala pendidikan dari sudut struktur social masyarakat, psikologi pendidikan memandang gejala pendidikan dari sudut perkembangan pribadi. Tugas pendidikan menurut sosiologi ialah memelihara kehidupan dan mendorong kemajuan masyarakat. Pada umumnya kaum pendidik dewasa ini memandang tujuan akhir pendidikan lebih bersifat sosiolistis daripada individualistis.

Menurut H.P. Fairchild (1957:547) dalam bukunya ‘’Dictionary of Sociology’’ dikatakan bahwa: Sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Jadi sosiologi pendidikan tergolong applied sociology.
Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki daerah yang saling dilingkupi antara sosiologi dengan ilmu pendidikan. Apakah soiologi itu? Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode, dan susunan pengetahuan. Objek penelitian sosiologi adalah tingkah laku manusia dalam kelompok. Sudut pandangnya ialah memandang hakikat masyarakat kebudayaan, dan individu secara ilmiah. Sedangkan susunan pengetahuan dalam sosiologi terdiri atas konsep dan prinsip mengenai kehidupan kelompok sosial, kebudayaannya, dan perkembangan pribadi.

Apakah lapangan penelitian sosiologi itu? Pusat penelitian sosiologi ialah tingkah laku sosial, yaitu tingkah laku manusia dalam istitusi sosial. Tingkah laku itu hanya dapat dimengerti dan tujuan, cita-cita, nilai-nilai yang dikejar. Tingkah laku sosial itu membangun kepribadian manusia, yaitu melalui peranan yang dilakukannya dalam kehidupan kelompoknya. Peranan itu menghasilkan kebudayaan, yang seringkali disebut juga warisan sosial manusia.
Sosiologi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yakni sosiologi umum, tugasnya menyelidiki gejala sosio-kultural secara umum; dan sosiologi khusus, yaitu pengkhususan dari sosiologi umum tugasnya menyelidiki suatu aspek kehidupan sosio kultural secara mendalam. Misalnya sosiologi perdesaan, sosiologi perkotaan, sosiologi agama, sosiologi hukum, sosiologi ekonomi, sosiologi pendidikan dan sebagainya.

Jadi sosiologi pendidikan merupakan salah satu sosiologi khusus. Menurut F.G. Robbins (Ahmadi, 1991:3), sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. Yang termasuk dalam pengertian struktur ini ialah teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya itu dengan tata sosial masyarakat. Sedangkan yang dimaksud dengan dinamika, ialah proses sosial dan kultur, proses perkembangan kepribadian, dan hubungan semuanya itu dengan proses pendidikan.
Dalam cabang studi ilmu ekonomi pembangunan dan ekonomi politik, jelas bahwa studi ekonomi tidak bisa lagi membatasi diri pada pembahasan di bidang ekonomi saja, yakni bagaimana mengefisienkan dan mengembangkan sumber produktif yang langka. Dalam ekonomi pembangunan, masalah politik dan kebudayaan serta keterkaitannya dengan sistem perekonomian internasional masuk dalam pembahasan. Juga pengertian pengefisiensian dan pengembangan sumber-sumber produktif yang langka ditegaskan sasarannya, yakni untuk kepentingan rakyat miskin. Dengan demikian, dalam ekonomi pembangunan, bukan saja peningkatan produktivitas menjadi penting, tetapi juga, bahkan terutama, distribusi yang merata dari hasil produksi menjadi sangat penting.

Untuk memperjelas masalah tersebut di atas maka Todaro (1987:12) mengemukakan beberapa persoalan sebagai berikut:

  1. Dari mana sumber dana pembangunan nasional dan internasional? Siapa yang paling diuntungkan oleh pembangunan ini dan mengapa? Mengapa negara tertentu atau kelompok tertentu terus menjadi semakin kaya sedang yang lainnya tidak?
  2. Bagaimana prosesnya sampai negara-negara di Dunia Ketiga terlilit utang dan apa dampaknya terhadap pembangunan nasionalnya?
  3. Apakah masuknya modal perusahaan multinasional merupakan sesuatu yang baik bagi negara miskin, dan kalau memang baik, apa syarat-syaratnya?
  4. Apakah utang dari negara kaya berdampak positif bagi negara miskin? Kalau ya, apa syaratnya dan untuk apa sebaiknya utang tersebut digunakan? Lalu apakah negara-negara kaya sebaiknya terus memberi utang kepada Negara-negara miskin, apa syarat dan tujuannya?
  5. Apakah ekspor dan komoditi primer seperti misalnya hasil-hasil pertanian terus dikembangkan di negara-negara miskin, atau sebaiknya negara-negara ini memusatkan diri pada pembangunan industri, terutama industri barang modal, secepat mungkin?
  6. Apakah perdagangan internasional berdampak positif bagi pembangunan di negara-negara miskin? Kalau ya, siapa sebenarnya yang diuntungkan oleh perdagangan semacam ini, dan bagaimana keuntungan perdagangan ini menyebar di antara negara-negara yang ada? Kalau tidak, apa alternatifnya.
  7. Karena 70% atau 80% penduduk di negara miskin hidup di perdesaan, bagaimana cara yang paling baik untuk melakukan pembangunan pertanian?
  8. Apakah sistem pendidikan di negara Dunia Ketiga memang membantu pembangunan ekonomi, atau sistem ekonomi yang ada hanya merupakan mekanisme untuk memungkinkan kelompok atau kelas tertentu mempertahankan kekayaan, kekuasaan dan pengaruhnya?
  9. Bagaimana asalnya dan apa dasarnya sehingga negara Dunia Ketiga menuntut dibentuknya Tata Ekonomi Dunia Baru? Apakah Tata Ekonomi semacam ini mungkin, apa yang menjadi unsur utamanya dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan ekonomi negara miskin?

 

  1. A.    Sosiologi Pendidikan

Ditinjau dari segi etimologinya istilah sosiologi pendidikan terdiri atas dua perkataan yaitu sosiologi dan pendidikan. Maka jelas bahwa di dalam sosiologi pendidikan itu yang menjadi masalah sentralnya ialah aspek-aspek sosiologi di dalam pendidikan. Mengapa di dalam pendidikan terdapat aspek-aspek sosiologis, karena dalam situasi pendidikan melibatkan hubungan dan pergaulan sosial, yaitu hubungan dan pergaulan social antara pendidikan dengan anak didik, pendidik dengan pendidik, anak-anak dengan anak-anak pegawai dengan pendidik, pegawai-pegawai dan anak-anak. Hubungan dan pergaulan sosial ini secara totalitas, merupakan suatu unit keluarga, yakni keluarga sekolah mana terdapat tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Jadi di dalam keluarga sekolah itu terdapat hubungan dan pergaulan sosial yang timbal balik satu sama lain, saling mempengaruhi dan terjadi interaksi sosial. Maka jelaslah di dalam sosiologi pendidikan itu akan berlaku dan bekerja sama antara prinsip sosiologis dan prinsip paedagogis serta ilmu-ilmu bantuannya, seperti psikologika (ilmu psikologi pendidikan). Atau secara konkrit, bahwa di dalam sosiologi pendidikan itu bukan saja terdapat sosiologi ataupun pendidikan, terdapat sosiologi ataupun pendidikan, yang merupakan suatu ilmu yang baru ialah kerjasama antara keduanya, dengan mempergunakan prinsip-prinsip sosiologi di dalam seluruh proses pendidikan meliputi metode, organisasi sekolah, evaluasi pelajaran dan kegiatan-kegiatannya.
Menurut E. George Payne (1928:20) menjelaskan pengertian sosiologi pendidikan antara lain: ‘’By educational sociology we mean the science which describes and explains the institutions, social groups, and social processes, that is the social relationships in which or through whics the individual gains and organizes experiences’’. Di sini Payne menekankan bahwa di dalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok sosial, proses sosial, terdapat apa yang dinamakan sosial relationship, di mana di dalam dan dengan interaksi sosial itu individu memperoleh dan mengorganisir pengalaman-pengalamannya. Inilah yang merupakan aspek-aspek atau prinsip-prinsip sosiologisnya. Selanjutnya Payne (1928:20) menjelaskan bahwa: ‘’The social interdepences include not nurely those in which the individual gains and organizes his experiences as a child, but also those social groups and processes in which the must function in adult life. These social relationships are for theremore regarded particulary inrelation to the educational system in its evolution and changing finction’’.

Jadi bukan saja pada anak-anak tetapi juga pada orang-orang dewasa, kelompok-kelompok sosial, bahkan pada proses sosial pun, bahwa interaksi sosial itu yang membentuk tingkah laku manusia, secara tertentu dianggap sebagai sistem pendidikan yang berkembang terus. Artinya setiap kali didapati kondisi dan situasi baru, haruslah ada interaksi sosial yang baru dan seolah-olah individu-individu itu belajar berinteraksi sosial. Inilah yang merupakan prinsip paedagogisnya.
Menurut Charles A. Ellwood bahwa: ‘’ Educational Sociology is the science which aims to reveal the connections at all points between the educative process and the social process’’. Artinya: Sosiologi Pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari/menuju untuk melahirkan maksud hubungan-hubungan antara semua pokok-pokok masalah antara proses pendidikan dan proses sosial).

Menurut Dr. Ellwood bahwa: ‘’Educational sociology should be centered about the process of inter-learning-learning from ane another’’. Artinya Sosiologi Pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari antara orang yang satu dengan orang yang lain.
Menurut E.B. Reuter bahwa: Sosiologi Pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa evolusi dari lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia, dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh dari lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian sosial dari tiap-tiap individu. Jadi prinsipnya antara individu dengan lembaga-lembaga sosial itu selalu saling pengaruh-mempengaruhi (process of social interaction).

Menurut W. Dodson menegaskan, bahwa ‘’Educational Sociology is interested in the impact of the total cultural milieu in which and thought which experience in the acquired and organized. It is interested in the school but recognizes it a small part of the total. Educational sociology is particularly interested in finding out how to manipulate the educational process (social control) to achieve better personality development’’. Artinya Sosiologi Pendidikan itu mempersoalkan pertemuan dan percampuran daripada lingkungan sekitar kebudayaan secara totalitas, di mana dalam dan dengan begitu maka terbentuklah tingkah laku, dan sekolah dianggap sebagian daripada total cultural milieu, sedang sosiologi pendidikan memperbincangkan dan berusaha menemukan bagaimana memanipulasikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian.

Studi Sosiologi Pendidikan yang memadai harus mencakup pengertian tentang individu dan lingkungan sosialnya, di mana individu dan lingkungan sosial tadi tidaklah berdiri sendiri, tetapi terjalinlah hubungan timbal balik antara keduanya.

Sosiologi Pendidikan adalah suatu cabang ilmu pengetahuan (dari ilmu jiwa pendidikan) yang membahas proses interaksi sosial anak-anak mulai dari keluarga, masa sekolah sampai dewasa serta dengan kondisi sosio-kultural yang terdapat di dalam masyarakat dan negaranya.
Jadi tegasnya, proses interaksi sosial yang diselidiki itu mulai dari bayi di dalam keluarga, masa kanak-kanak dan prasekolah lengkap dengan kelompok permainannya, masa sekolah di sini meliputi masa lengkap dengan factor sosio-kultural yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan keribadian anak didik, secara prinsipil ialah kebudayaan dan kepribadian nasionalnya. Bagi kita bangsa Indonesia, tidak lain daripada system pendidikan nasionalnya dan kebudayaan serta kepribadian nasional Indonesia yang semuanya adalah dijiwai dan untuk merealisasikan cita-cita negara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Atau secara singkat sosiologi pendidikan ialah tinjauan sosiologisnya terhadap proses pendidikan dan pengajaran.

Adapun tujuan sosiologi pendidikan di Indonesia menurut Ahmadi (1991:10-11) antara lain:

  1. Berusaha memahami peranan sosiologi daripada kegiatan sekolah terhadap masyarakat, terutama apabila sekolah ditinjau dari segi kegiatan intelektual. Dengan demikian sekolah harus bisa menjadi suri tauladan di dalam masyarakat sekitarnya dan lebih luas lagi, atau dengan singkat mengadakan sosialisasi intelektual untuk memajukan kehidupan di dalam masyarakat.
  2. Untuk memahami seberapa jauhkah guru dapat membina kegiatan sosial anak didiknya untuk mengembangkan kepribadian.
  3. Untuk mengetahui pembinaan ideologi Pancasila dan kebudayaan nasional Indonesia di lingkungan pendidikan dan pengajaran.
  4. Untuk mengadakan integrasi kurikulum pendidikan dengan masyarakat sekitarnya agar pendidikan mempunyai kegunaan praktis di dalam masyarakat, dan negara seluruhnya.
  5. Untuk menyelidiki fakor-faktor kekuatan masyarakat, yang bisa menstimulir pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak.
  6. Memberi sumbangan yang positif terhadap perkembangan ilmu pendidikan.
  7. Memberi pegangan terhadap penggunaan prinsip-prinsip sosiologi untuk mengadakan sosiologi sikap dan kepribadian anak didik.

Sosiologi pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang interaksi di antara individu-individu dan kelompok, kelompok dengan kelompok, atau dengan perkataan lain secara khusus sosiologi pendidikan membicarakan, melukiskan dan menerangkan institusi, kelompok, social dan proses sosial hubungan atau relasi sosial dimana di dalam dan dengannya manusia memperoleh dan mengorganisir pengalamannya. Jadi sosiologi pendidikan tidak hanya terbatas pada studi di sekolah saja, tetapi lebih luas lagi ialah mencakup institusi social dengan batasan sepanjang pengaruh daripada totalitas milieukulturan terhadap perkembangan kepribadian anak.

Adapun kajian sosiologi of education menurut Ahmadi (1991:25) antara lain: (1) hubungan antara system pendidikan dengan proses social dan perubahan kebudayaan atau dengan pemeliharaan status quo; (2) fungsi system pendidikan formal di dalam proses pembaharuan social, misalnya di dalam hubungan antara manusia yang berkenaan dengan ras, budaya dan kelompok lainnya; (3) fungsi system pendidikan di dalam proses pengendalian social; (4) hubungan antara system pendidikan dengan pendapat umum (public opinion); (5) hubungan antara pendidikan dengan kelas social atau system status, dan (6) keberartian pendidikan sebagai suatu symbol terpercaya di dalam kebudayaan demokratis.

 

  1. B.     Masyarakat Berkembang

Menurut Rostow (Alfian, 1986:34) secara generalisasi tahap-tahap pertumbuhan atau pembangunan suatu masyarakat atau bangsa ke dalam lima tingkatan atau tahap, yaitu:

1)      Tahap Tradisional

Ilmu pengetahuan pada masyarakat ini masih belum banyak dikuasai. Karena itu, masyarakat semacam ini masih dikuasai oleh kepercayaan-kepercayaan tentang kekuatan di luar kekuasaan manusia. Manusia dengan demikian tunduk kepada alam, belum bisa menguasai alam.
Keadaan ini, akibatnya produksi masih sangat terbatas. Masyarakat ini cenderung bersifat statis, dalam arti kemajuan berjalan dengan sangat lambat. Produksi dipakai untuk konsumsi dan tidak ada investasi. Pola dan tingkat kehidupan generasi kedua pada umumnya hampir sama dengan kehidupan generasi sebelumnya.

 

2)      Tahap Pra-Kondisi untuk Tinggal landas

Masyarakat tradisional, meskipun sangat lambat, terus bergerak. Pada suatu titik, masyarakat tersebut akan mencapai posisi prakondisi untuk lepas landas. Keadaan ini terjadi karena adanya campur tangan dari luar, dari masyarakat yang sudah lebih maju. Perubahan ini tidak datang karena faktor-faktor internal masyarakat tersebut, karena pada dasarnya masyarakat tradisional tidak mampu untuk mengubah dirinya sendiri. Campur tangan dari luar ini menggoncangkan masyarakat tradisional itu. Dan pada akhirnya mulai berkembang ide pembaharuan seperti yang diungkapakan oleh Rostow (dalam Budiman, 1995: 26-27) bahwa:
“Ide-ide berkembang ini bukan sekedar pendapat yang menyatakan bahwa kemajuan ekonomi dapat dicapai, tetapi bahwa kemajuan ekonomi merupakan suatu kondisi yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan lain yang dianggap baik, kebebasan bangsa, keuntungan pribadi, kemakmuran umum, atau kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka nantinya”.
Sebagai contoh, seperti yang terjadi di Jepang, dengan dibukanya masyarakat ini oleh armada angkatan laut Amerika Serikat. Pada periode ini, usaha untuk tabungan masyarakat terjadi. Tabungan ini kemudian dipakai untuk melakukan investasi pada sektor-sektor produktif yang menguntungkan, termasuk pendidikan. Investasi ini dilakukan baik oleh perorangan maupun oleh negara. Sebuah negara nasional yang sentralistis juga terbentuk. Dan pada akhirnya, segala usaha untuk meningkatkan produksi mulai bergerak dalam periode tersebut.

 

 

3)      Tahap Tinggal landas

Periode ini ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan merupakan sesuatu yang berjalan wajar, tanpa adanya hambatan yang berarti seperti ketika pada periode prakondisi untuk lepas landas.
Pada periode ini, tabungan dan investasi yang efektif meningkat dari 5% menjadi 10% dari pendapatan nasional, atau lebih. Industri-industri baru mulai berkembang dengan sangat pesat. Keuntungannya sebagian besar ditanamkan kembali ke pabrik yang baru. Sektor modern dari perekonomian dengan demikian jadi berkembang.

Dalam pertanian, teknik-teknik baru juga tumbuh. Pertanian menjadi usaha komersial untuk mencari keuntungan, dan bukan sekedar untuk konsumsi. Peningkatan dalam produktivitas pertanian merupakan sesuatu yang penting dalam proses lepas landas, karena proses modernisasi masyarakat membutuhkan hasil pertanian yang banyak, supaya ongkos perubahan ini tidak terlalu mahal.

 

4)      Tahap Kedewasaan (maturity)

Setelah lepas landas, akan terjadi proses kemajuan yang terus bergerak ke depan, meskipun kadang-kadang terjadi pasang surut. Antara 10% sampai 20% dari pendapatan nasional selalu diinvestasikan kembali, supaya bisa mengatasi persoalan pertambahan penduduk.
Industri berkembang dengan pesat. Negara ini memantapkan posisinya dalam perekonomian global, barang-barang yang tadinya diimpor sekarang diproduksikan di dalam negeri, impor baru menjadi kebutuhan, sementara ekspor barang-barang baru mengimbangi impor.
Sesudah 60 tahun sejak sebuah negara lepas landas (atau 40 tahun setelah periode lepas landas berakhir), tingkat kedewasaan biasanya tercapai. Perkembangan industri terjadi tidak saja meliputi teknik-teknik produksi, tetapi juga dalam aneka barang yang diproduksi. Yang diproduksikan bukan saja terbatas pada barang konsumsi, tetapi juga barang modal.

 

5)      Tahap Konsumsi Massa yang Tinggi

Tingginya kenaikan pendapatan masyarakat, konsumsi tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok untuk hidup, tetapi meningkat ke kebutuhan yang lebih tinggi. Produksi industri juga berubah, dari kebutuhan dasar menjadi kebutuhan barang konsumsi yang tahan lama.
Pada periode ini, investasi untuk meningkatkan produksi tidak lagi menjadi tujuan yang paling utama. Sesudah taraf kedewasaan dicapai, surplus ekonomi akibat proses politik yang terjadi dialokasikan untuk kesejahteraan sosial dan penambahan dana sosial. Pada titik ini, pembangunan sudah merupakan sebuah proses yang berkesinambungan, yang bisa menopang kemajuan terus menerus.

Adapun ciri-ciri umum dari Teori Modernisasi antara lain:

  1. Didasarkan pada dikotomi antara apa yang disebut modern dan yang disebut tradisional. Yang modern merupakan symbol dari kemajuan, pemikiran yang rasional, cara kerja yang efisien, dan seterusnya. Sebaliknya masyarakat tradisional merupakan masyarakat yang belum maju, ditandai oleh cara`berpikir yang irasional serta cara kerja yang tidak efisien.
  2. Didasarkan pada fator non material sebagai penyebab kemiskinan, khususnya dunia ide atau alam pikiran. Pendidikan merupakan salah satu cara yang sangat penting untuk mengubah psikologi seseorang atau nilai-nilai budaya sebuah masyarakat.
  3. Teori Modernisasi biasanya bersifat a-historis. Hukum-hukumnya sering dianggap berlaku secara universal. Dia dapat diberlakukan tanpa memperhatikan factor waktu ataupun tempat. Misalnya tentang prinsip rasionalitas atau efisiensi.
  4. Faktor yang mendorong atau menghambat pembangunan harus dicari di dalam Negara-negera yang bersangkutan. Misalnya kurangnya pendidikan pada sebagian besar penduduknya, adanya nilai-nilai budaya local yang kurang menghargai kekayaan material, dan sebagainya.

Teori structural menurut Dr. Arief Budiman (1996:41) bahwa kemiskinan yang terdapat di Negara-negara Dunia Ketiga yang mengkhususkan diri pada produksi pertanian adalah akibat dari struktur perekonomian dunia yang bersifat eksploitatif, di mana yang kuat melakukan eksploitasi terhadap yang lemah. Maka, surplus dari Negara-negara Dunia Ketiga beralih ke negara-negara industri maju.

Apa hubungan antara Teori Sistem Dunia dengan Teori Ketergantungan. Pertama, terjadi persamaan yang dekat antara teori ini dengan Teori Ketergantungan Andre Gunder Frank. Keduanya melihat Negara tidak bisa dianalisis secara mandiri, terpisah dan totalitas system dunia.
Tetapi berbeda dengan Frank yang melihat hubungan antara Negara pinggiran dan Negara pusat sebagai hubungan yang selalu merugikan Negara yang pertama, Wallerstein tidak sepesimis itu. Bagi Wallerstein, dinamika system dunia, yakni kapitalisme global, selalu memberikan peluang bagi Negara-negara yang ada untuk naik atau turun kelas. Sistem dua yang dulu memberi keunggulan pada Negara-negara yang bisa menghasilkan komoditi primer, pada saat lain keunggulan ini beralih kepada Negara-negara yang mengembangkan industrinya.

Sistem dunia ini juga yang kemudian memberi kesempatan kepada Negara-negara pinggiran yang sudah relative siap untuk mengambil alih kesempatan untuk melakukan produksi barang-barang industri yang sederhana, pada saat produksi barang-barang ini sudah tidak mengutungkan lagi di Negara-negara pusat, karena upah buruh yang meningkat.

 

BAB III

Kesimpulan

 

            Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan hal-hal berikut:
1. Ruang lingkup sosiologi pendidikan terdapat tiga kecenderungan yang berbeda. Pertama, golongan yang terlalu menitik beratkan pandangan pendidikan daripada pandangan sosiologinya, misalnya David Snedden, C.C. Peters, F.E. Bolton dan J.E. Corbally. Kedua, golongan ‘applied’ educational sociology, terutama terdiri atas ahli-ahli sosiologi yang memberi dasar pengertian sosio-kultural untuk pendidikan. Golongan kedua ini menekankan pada shool community orientation dan peranan factor-faktor dalam masyarakat, seperti film, buku komik, dan lain-lain. Yang termasuk golongan ini, misalnya E.G. Payne, H. Zorbaugh, L.A. Cook, J.S. Roucek, dan L.D. Zeleny. Ketiga, golongan yang terutama menitik beratkan pandangan teoritik, yaitu yang ingin mengembangkan teori sosiologik tentang proses pendidikan, misalnya W. Waller.
2. Untuk menganalisis sosiologi pendidikan dalam masyarakat yang sedang berkembang dapat dilihat dari tiga aliran pemikiran, yakni pertama teori modernisasi mengajukan gagasan agar dunia Ketiga melakukan transformasi nilai-nilai tradisionalnya mengikuti dan meniru nilai-nilai budaya Amerika serta menggantungkan bantuan dan hutang dari Amerika. Kedua Teori Ketergantungan merumuskan hubungan antara Negara Barat dengan Negara Dunia Ketiga sebagai hubungan yang dipaksakan, eksploitatif, ketergantungan. Hubungan ekonomi yang terjadi bukan merupakan jenis keterkaitan yang menyebabkan terjadinya pembangunan Negara Dunia Ketiga. Oleh karena itu, teori dependensi mengajukan sarannya kepada Negara Dunia Ketiga untuk melepaskan hubungan dan keterakitan dengan Negara Barat, jika Negara Dunia Ketiga hendak mencapai pembangunan yang independent dan otonom. Ketiga, Teori Sistem Dunia yang menawarkan orientasi penafsiran baru terhadap berbagai peristiwa penting, seperti industrialisasi Asia Timur, krisis Negara sosialis, dan hadirnya gelombang baru kolonialisme. Dipengaruhi teori dependensi dan ajaran Annales Perancis, teori system dunia ini menekankan bakan pentingnya analisa totalitas dan berjangka panjang. Oleh karena itu, unit analisa yang tepat menurut perspektif ini, adalah keseluruhan dunia, yang merupakan salah satu system yang menyejarah yang terdiri dari tiga strata, yaitu sentral, semi pinggiran, dan pinggiran.

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Ahmadi, Abu. 1991. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Alfian. 1986. Transformasi Sosial Budaya dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: UI Press.
  • Alvin Y. SO dan Suwarsono. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES.
  • Andrew Webster. 1990. Introduction to The Sosciology of Development. Second Edition. Hongkong: Macmillan Education Ltd.
  • Budiman, Arief. 1996. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • E. George Payne. 1928. Principle of Educational Sociology An Outline. New York: New York University Book Store.
  • Garna, Judistira K. 1992. Teori-Teori Perubahan Sosial. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
  • H.P. Fairchild (ed). 1962. Dictionary of Sociology. New Jersey: Littlefield, Adams & Co.
  • Komara, Endang. 2003. Transformasi Sosial Budaya Masyarakat Agraris Ke Masyarakat Industri: Studi Kasus di Wilayah Industri Campaka Purwakarta. Disertasi S3. Bandung: Universitas Padjadjaran.
  • Nasution, S. 2004. Sosiologi Pendidikan. Bandung: Bumi Aksara.
  • Todaro, Michael P. 1987. Economic Development in the Third World. New York: Longman Inc.
  • Vembriarto, ST. 1990. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.

 

Hubungan Filsafat Dan Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu sedangkan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah tahu dan apa yang belum tahu, berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam kemestaan yang seakan tak terbatas. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah diangkau.

Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak sekola dasar pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi, berfilsafat tentang ilmu berarti terus terang kepada diri sendiri. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris.

Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan laut saja. Semantara filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.

Sedangkan pendidikan merupakan salah satu bidang ilmu, sama halnya dengan ilmu-ilmu lain. Pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat, sejalan dengan proses perkembangan ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari dari induknya. Pada awalnya pendidikan berada bersama dengan filsafat, sebab filsafat tidak pernah bisa membebaskan diri dengan pembentukan manusia. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.


BAB II

PEMBAHASAN

HUBUNGAN FILSAFAT DAN PENDIDIKAN

A. PENDIDIKAN

Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani kearah kedewasaan.

Secara garis besar pengertian pendidikan dapat dibagi menjadi tiga yaitu :

a). Pendidikan

b). teori umum pendidikan

c). ilmu pendidikan.

Pengertian pertama, pendidikan pada umumnya yaitu mendidik yang dilakukan oleh masyarkat umum. Pendidikan seperti ini sudah ada semenjak manusia ada di muka bumi ini. Pada zaman purba, kebanyakan manusia memerlukan anak-anaknya secara insting atau naluri, suatu sifat pembawaan, demi kelangsungan hidup keturunanya. Yang termasuk insting manusia antara lain sikaf melindungi anak, rasa cinta terhadap anak, bayi menangis, kempuan menyusu air susu ibu dan merasakan kehangatan dekapan ibu.

Pekerjaan mendidik mencakup banyak hal yaitu segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia. Mulai dari perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, sosial, sampai kepada perkembangan iman. Mendidik bermaksud membuat manusia menjadi lebih sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dari kehidupan alamiah menjadi berbudaya. Mendidik adalah membudayakan manusia.

Kedua, pendidikan dalam teori umum, menurut John Dewey pendidikan itu adalah The general theory of education dan Philoshophy is the general theory of education, dan dia tidak membedakan filsafat pendidikan dengan teori pendidikan, atau filsafat pendidikan sama dengan teri pendidikan. Sebab itu ia mengatakan pendidikan adalah teori umum pendidikan.

Konsep di atas bersumber dari filsafat pragmatis atau filsafat pendidikan progresif, inti filsafat pragmatis yang mana berguna bagi manusia itulah yang benar, sedangkan inti filsafat pendidikan progresif mencari terus-menerus sesuatu yang paling berguna hidup dan kehidupan manusia.

Ketiga, ilmu pendidikan dibentuk oleh sejumlah cabang ilmu yang terkait satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan. Masing-masing cabang ilmu pendidikan dibentuk oleh sejumlah teori.

B. FILSAFAT

Filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai keakar-akarnya. Sesuatu disini dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti tidak terbatas. Bila berarti terbatas, filsafat membatasi diri akan hal tertentu saja. Bila berarti tidak terbatas, filsafat membahas segala sesuatu yang ada dialam ini yang sering dikatakan filsafat umum. Sementara itu filsafat yang terbatas adalah filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni dan lain-lainnya.

Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja, sesungguhnya isi alam yang dapat dinikmati hanya sebagian kecil saja. Misalnya mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan di laut saja. Sementara itu filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba sesuatu yang ada dipikiran dan renungan yang kritis.

Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu: metafisiska, epistemologi, logika, dan etika, dengan kandungan materi masing-masing sebagai berikut :

1)   Metafisika adalah filsafat yang meninjau tentang hakekat segala sesuatu yang terdapat dialam ini. Dalam kaitannya dengan manusia, ada dua pandangan menurut Callahan (1983) yaitu :

a. Manusia pada hakekatnya adalah spritual. Yang ada adalah jiwa tau roh, yang lain adalah semu. Pendidikan berkewajiban membebaskan jwa dari ikatan semu. Pendidikan adalah untuk mengaktualisasikan diri, pandangan ini dianut oleh kaum Idealis, Scholastik, dan beberapa Realis.

b. Manusia adalah organisme materi.Pandangan ini dianut kaum Naturalis, Materialis, Eksprementalis, Pragmatis, dan beberapa Realis. Pendidikan adalah untuk hidup. Pendidikan berkewajiban membuat kehidupan menusia menjadi menyenangkan.

2)   Epistemologi adalah filfat yang membahas tentang pergaulan dan kebenaran, dengan rincian masing-masing sebagai beikut :

a. ada lima sumber pengetahuan yaitu:

(1) Otoritas, yang terdapat dalam ensiklopedia, buku teks yang baik, rums dan tabel.

(2). Comman sense yang ada pada adat dan tradisi

(3). Intuisi yang berkaitan dengan perasaan

(4). Pikiran untuk menyimpulkan hasil pengelaman

(5).Pengalaman yang terkontrol untuk mendapatkan pengetahuan secara ilmiah.

b. ada empat teori kebenaran yaitu:

(1). Koheren, sesuatu akan benar bila ia konsesten dengan kebenaan umum.

(2). Koresponden, sesuatu akan benar bila ia dengan tepat dengan fakta yang jelas.

(3). Pragmatisme, sesuatu dipandang benar bila konsekuensinya memberi manfaat bagi kehidupan.

(4). Skeptivisme, kebenaran dicari secara ilmiah dan tidak ada kebenaran yang lengkap.

3). Logika adalah filsafat yang membahas tentang cara manusia berpikir dengan benar. Dengan memahami filsafat logika diharapkan manusia bisa berpikir dan mengemukakan penadapatnya secara tepat.

4). Etika adalah filsafat yang menguaraikan tentang perilaku manusia, Nilai dan norma masyarakat serta ajaran agama menjadi pokok pemikiran dalam filsafat ini. Filsafat etika sangat besar mempengaruhi pendidikan sebab tujuan pendidikan untuk mengembangan perilaku manusia, anatara lain afeksi peserta didik.

Junjun (1981) membagi proses perkembangan ilmu menjadi dua bagian yang seling berkaitan satu dengan yang lain. Tingkat proses perkembangan yang dimaksud adalah:

1). Tingkat empiris adalah ilmu yang baru ditemukan di lapangan. Ilmu yang masih berdiri sendiri, baru sedikit bertautan dengan penemuan yang lain sejenis. Pada tingkat ini wujud ilmu belum utuh, masing-masing sesuai dengan misi penemuannya karena belum lengkap.

2). Tingkat penjelasan atau teoretis, adalah ilmu yang sudah mengembangkan suatu struktur teoretis. Dengan struktur ini ilmu-ilmu emperis yang masih terpisah-pisah itu dicari kaitannya satu dengan yang lain dan dijelaskan sifat kaitan itu. Dengan cara ini struktur berusaha mengintergrasikan ilmu-ilmu empiris itu menjadi suatu pola yang berarti.

Dari uraian di atas kita sudah berkenalan dengan ilmu empiris berupa simpulan-simpulan penelitian dan konsep-konsep serta ilmu teoretis dalam bentuk teori-teori atau grand theory-grand theory.

Pendidikan adalah merupakan salah satu bidang ilmu. Sama halnya dengan ilmu-ilmu yang lain, pendidikan lahir dari induknya filsafat. Sejalandengan proses perkembangan ilmu ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari induknya. Pada awalnya pendidikan bersama dengan filsafat sebab filsafat tidak pernah bisa membebaskan diri dengan pembentukan manusia. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.

C. HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DAN PENDIDIKAN

Hubungan antara filsafat dan pendidikan terkait dengan persoalan logika, yaitu: logika formal yang dibangun atas prinsif koherensi, dan logika dialektis dibangun atas prinsip menerima dan membolehkan kontradiksi. Hubungan interakif antara filsafat dan pendidikan berlangsung dalam lingkaran kultural dan pada akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan filsafat pendidikan.

D. FILSAFAT PENDIDIKAN

Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar-akarnya mengenai pendidikan. Ada sejumlah filsafat pendidikan yang dianut oleh bangsa-bangsa di dunia, namun demikian semua filsafat itu akan menjawab tiga pertanyaan pokok sebagai berikut:

1). Apakah pendidikan itu?

2). Apa yang hendak dicapai?

3). Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan itu?

Masing-masing pertanyaan ini dapat dirinci lebih lanjut. Berbagai pertanyaan yang bertalian dengan apakah pendidikan itu, antara lain :

1). Bagaimana sifat pendidikan itu?

2). Apakah pendidikan itu merupakan sosialisasi?

3). Apakah pendidikan itu sebagai pengembangan individu?

4). Bagaimana mendefinisikan pendidikan itu ?

5). Apakah pendidikan itu berperan penting dalam membina perkembangan atau mengarahkan perkembangan siswa?

6). Apakah perlu membedakan pendidikan teori dengan pendidikan praktek?

Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang hendak dicapai oleh pendidikan, antara lain :

1). Beberapa proporsi pendidikan yang bersifat umum?

2). Beberapa proporsi pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu?

3). Apakah peserta didik diperbolehkan berkembang bebas?

4). Apakah perkembangan peserta didik diarahkan ke nilai tertentu?

5). Bagaimana sifat manusia?

6). Dapatkah manusia diperbaiki?

7). Apakah manusia itu sama atau unik?

8). Apakah ilmu dan teknologi satu-satunya kebenaran utama dalam era globalisasi?

9). Apakah tidak ada kebenaran lain yang dapat dianut pada perkembangan manusia?

Pertanyaan-pertanyaan yang bertalian dengan cara terbaik merealiasi tujuan pendidikan, anatara lain ?

1). Apakah pendidikan harus berpusat pada mata pelajaran atau peserta didik?

2). Apakah kurikulum ditentukan lebih dahulu atau berupa pilihan bebas?

3). Ataukah peserta didik menentukan kurikulumnya sendiri?

4). Apakah lembaga pendidikan permanen atau bersifat tentatif?

5). Apakah proses pendidikan berbaur pada masyarakat yang sedang berubah cepat?

6). Apakah diperlukan kondisi-kondisi tertentu dalam membina perkembangan anak?

7). Siapa saja yang perlu dilibatkan dalam mendidik anak-anak?

8). Perkembangan apa saja yang diperlukan dalam proses pendidikan?

9). Apakah dperlukan nilai-nilai penuntun dalam proses pendidikan?

10). Bagaimana sebaiknya proses pendidikan itu, otoriter, primitif, atau

demokratis?

11). Belajar menekan prestasi atau terpusat pada pengembangan cara belajar dan kepuasan akan hasil belajar?

Menurut Zanti Arbi (1988) Filsafat Pendidikan adalah sebagai berikut.

1). Menginspirasikan

2). Menganalisis

3). Mempreskriptifkan

4). Menginvestigasi

Maksud menginsparasikan adalah memberin insparasi kepada para pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan. Melalui filsafat tentang pendidikan, filosof memaparkan idennya bagaimana pendidika itu, kemana diarahkan pendidikan itu, siapa saja yang patut menerima pendidikan, dan bagaimana cara mendidik serta peran pendidik. Sudah tentu ide-ide ini didasari oleh asumsi-asumsi tertentu tentang anak manusia, masyarakat atau lingkungan, dan negara.

Sementara itu yang dimaksud dengan menganalisis dalam filsafat pendidikan adalah memeriksa teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya. Hal ini perlu dilakukan agar dalam penyusunan konsep pendidikan secara utuh tidak terjadi kerancan, umpang tindih, serta arah yang simpang siur. Dengan demkian ide-ide yang komplek bisa dijernihkan terlebih dahulu, tujuan pendidikan yang jelas, dan alat-alatnya juga dapat ditentukan dengan tepat.

Francis Bacon dalam bukunya The Advencement of Leraning mengemukakan tesis bahwa kebanyakan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia mengandung unsur-unsur valitditas yang bermanfaat dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari, bila pengetahuan itu berisikan dari salah satu konsep yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Bacon menggunakan logika induktif sebagai teknik krisis atau analisis untuk menemukan arti pendidikan yang dapat diandalkan. Melalui pengalaman secara kritis dengan logika induktif akan dapat ditemukan konsep-konsep pendidikan.

Mempreskriptifkan dalam filsafat pendidikan adalah upaya mejelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan. Yang jelaskan bisa berupa hakekat manusia bila dibandingkan dengan mahluk lain, aspek-aspek peserta didik yang patut dikembangkan; proses perkembangan itu sendiri, batas-batas bantuan yang bisa diberikan kepada proses perkembangan itu sendiri, batas-batas keterlibatan pendidik, arah pendidikan yang jelas , target-target pendidikan bila dipandang perlu, perbedaan arah pendidikan bila diperlukan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat anak-anak.

Johann Herbart dalam bukunya Scence of education menginginkan agar guru mempunyai informasi yang dapat dihandalkan mengenai tujuan pendidikan yang dapat dicapai dan proses belajar sebelum guru ini memasuki kelas. Pondasi pendidikan yang dikontruksi di atas asumsi yang disangsikan kebenarannya atau di atas tradisi yang masih kabur perlu segera diganti dengan informasi-informasi yang valid. Suatu informasi yang direkonstruksi dari atau secara ilmiah.

Yang dimaksud menginvestigasi dalam filsafat pendidikan adalah untuk memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan. Pendidikan tidak dibenarkan mengambil begitu saja suatau konsep atau teori pendidikan untuk dipraktikan dilapangan. Pendidik seharusnya mencari sendiri konsep-konsep pendidikan di lapangan atau melalui penelitian-penelitian. Untuk sementara filsafat pendidikan bisa dipakai latar pengetahuan saja. Selanjutnya setelah pendidik berhasil menemukan konsep, barulah filsafat pendidikan dimanfaatkan untuk mengevaluasinya, atau sebagai pembanding, untuk kemungkinan sebagai bahan merevisi, agar konsep pendidikan itu menjadi lebih mantap.

John Dewey dalam bukunya Democracy and Education menyatakan bahwa pengelaman adalah tes terakhir dari segala hal. Mereka memandang pengalaman sebagai panji-panji semua filsafat pendidikan yang mempunyai komitmen terhadap inquiry atau penyelidik. Filosfo berfungsi memilih pengalaman-pengalaman yang cocok untuk memanjukan efisiensi sosial. Filsafat pendidikan berusaha menafsirkan proses belajar-mengajar menurut prosedur pengujian ilmiah dan kemudian memberi komentar tentang nilai atau kemanfaatannya. Filsafat pendidikan mencari konsekuensi proses belajar mengajar, apa yang telah dilakukan, apa kelemahannya, dan bagaimana cara mengatasi kelemahan itu

Para filosof, melalui filsafat pendidikannya, berusaha menggali ide-ide baru tentang pendidikan, yang menurut pendapatnya lebih tepat ditinjau dari kewajaran keberadaan peserta didik dan pendidik maupun ditinjau dari latar gografis, sosologis, dan budaya suatu bangsa. Dari sudut pandang keberadaan manusia akan menimbulkan aliran Perennialis, Realis, Empiris, Naturalis, dan Eksistensialis. Sedangkan dari sudut geografis, sosiologis, dan budaya akan menimbulkan aliran Esensialis, Tradisionalis, Progresivis, dan Rekontruksionis.

Berbagai aliran filafat pendidikan tersebut di atas, memberikan dampak terciptanya konsep-konsep atau teori-teori pendidikan yang beragam. Masing-masing konsep akan mendukung filsafat pendidikan itu. Dalam membangun teori-teori pendidikan, filsafat pendidikan juga mengingatkan agar teori-teori itu diwujudkan diatas ebenaran berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan. Dengan kata lain, teori-teori pendidikan harus disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah.

Beberapa aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia adalah sebagai berikut :

1). Esensialis

2). Perenialis

3). Progresivis

4). Rekonstruksionis

5). Eksistensialisi

Filsafat pendidikan Esesialis bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad lamanya. Kebenaran seperti itulah yang esensial, yang lain adalah kebenaran secara kebetulan saja. Kebenaran esensial itu adalah kebudayaan klasik yang muncul pada zaman Romawi yang menggunakan buku-buku klasik ditulis dengan bahasa latin dikenal dengan nama Great Book.

Tekanan pendidikannya adalah pada pembentukan intelektual dan logika. Dengan mempelajari kebudayaan Yunani-Romawi yang menggunakan bahasa latin yang sulit itu, diyakini otak peserta didik akan terarah dengan baik dan logikanya akan berkembang. Disiplin sangat diperhatikan, pelajaran dibuat sangat berstruktur, dengan materi pelajaran berupa warisan kebudayaan, yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga mempercepat kebiasaan berpikir efektif, pengajaran terpusat pada guru.

Filsafat pendidikan Perenialis bahwa kebenaran pada wahyu Tuhan. Tentang bagaimana cara menumbuhkan kebenaran itu pada diri peserta didik dalam proses belajar mengajar tidaklah jauh berbeda antara esensialis dengan peenialis. Proses pendidikan meraka sama-sama tradisional.

Filsafat pendidikan Progresivis mempunyai jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Menurut filsafat ini tidak ada tujuan yang pasti, begitu pula tidak ada kebenaran yang pasti. Tujuan dan kebenaran itu bersifat relatif, apa yang sekarang dipandang benar karena dituju dalam kehidupan, tahun depan belum tentu masih tetap benar. Ukuran kebenaan adalah yang berguna bagi kehidupan manusia hari ini.

Sebagai konsekuensi dari pandangan ini, maka yang dipentingkan dalam pendidikan adalah mengembangan peserta didik untuk bisa berpikir, yaitu bagaimana berpikir yang baik. Hal ini bisa tercapai melalui metode belajar pemecahan masalah yang dilakukan oleh anak-anak itu sendiri. Karena itu pendidikan menjadi pusat pada anak. Untuk mempercepat proses perkembangan mereka juga menekankan prinsip mendisiplin diri sendiri, sosialisasi, dan demokratisasi. Perbedaan-perbedaan individual juga sangat mereka perhatikan dalam pendidikan.

Filsafat pendidikan Rekonstruksionis merupakan variasi dari Progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki (Callahan, 1983). Meraka bercita-cita mengkonstuksi kembali kehidupan manusia secara total. Semua bidang kehidupan harus diubah dan dibuat baru aliran yang ektrim. Ini berupaya merombak tata susunan kehidupan masyarakat lama dan membangun tata susunan hidup yang baru sekali, melalui lembaga dan proses pendidikan. Proses belajar dan segala sesuatu bertalian dengan pendidikan tidak banyak berbeda dengan aliran Progresivis.

Filsafat pendidikan Eksistensialis berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adala eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Adanya manusia didunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi terserap karena ada manusia. Manusia adalah bebas, akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan komitmennya sendiri. (Callahan, 1983)

Pendidikan menurut filsafat ini bertujuan mengembangkan kesadaran individu, memberikesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong pengembangkan pengetahuan diri sendiri, bertanggung jawab sendiri, dan mengembangkan komitmen diri sendiri. Materi pelajaran harus memberikesempatan aktif sendiri, merencana dan melaksanakan sendiri, baik dalam bekerja sendiri maupun kelompok. Materi yang dipelajari ditekankan kepada kebutuhan langsung dalam kebutuhan manusia. Peserta didik perlu mendapatkan pengalaman sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual mereka. Guru harus bersifat demokratis dengan teknik mengajar langsung.


BAB III

KESIMPULAN

Filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Filsafat menjadi sumber dari segala kegiatan manusia atau mewarnai semua aktivitas warga negara dari suatu bangsa.

Pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam lingkungan masyarakat dan lingkungan. Ilmu pendidikan yaitu menyelidiki, merenungi tentang gejala-gejalan perbuatan mendidik.

Hubungan antara filsafat dan pendidikan terkait dengan persoalan logika, yaitu: logika formal yang dibangun atas prinsif koherensi, dan logika dialektis dibangun atas prinsip menerima dan membolehkan kontradiksi. Hubungan interakif antara filsafat dan pendidikan berlangsung dalam lingkaran kultural dan pada akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan filsafat pendidikan.

Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar-akarnya mengenai pendidikan. Filsafat pendidikan dijabarkan dari filsafat, artinya filsafat Pendidikan tidak bolah bertentangan dengan filsafat.

DAFTAR PUSTAKA

Suriasumantri, S. Jujun. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan

Purwanto, Ngalim. M. 2003. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya

Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan bercorak Indonesia, Jakarta, PT. Rineka Cipta.